English
 
 
Home arrow UU & Peraturan arrow PP60-1999 (Penjelasan)
 
 
PP60-1999 (Penjelasan) PDF Print E-mail
PENJELASAN
A T A S
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 60 TAHUN  1999
TENTANG
PENDIDIKAN TINGGI





UMUM

Perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat penyelenggaraan dan
pengembangan pendidikan tinggi serta pemeliharaan, pembinaan
dan pengembangan ilmu pengetahuan,teknologi dan/atau kesenian
sebagai suatu masyarakat ilmiah yang penuh cita-cita luhur,
masyarakat berpendidikan yang gemar belajar dan mengabdi
kepada masyarakat serta melaksanakan penelitian yang
menghasilkan manfaat yang meningkatkan mutu kehidupan
bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.

Ketentuan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menetapkan bahwa pendidikan tinggi
merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan
untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat
yang memiliki kemampuan akademik dan/atau
profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau
menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian.

Berkenaan dengan hal-hal itu, Peraturan Pemerintah ini dibuat
untuk mengatur :
 1. syarat-syarat dan Tata cara pendirian;
 2. struktur perguruan tinggi;
 3. penyelenggarakan pendidikan tinggi yang terdiri atas
    pendidikan akademik dan pendidikan profesional;
 4. bentuk-bentuk satuan pendidikan tinggi yang terdiri
    atas universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik,
    dan akademi;
 5. jenis gelar dan sebutan, syarat-syarat dan Tata cara
    pemberian perlindungan dan penggunaannya;
 6. syarat-syarat dan Tata cara pengangkatan termasuk
    penggunaan sebutan guru besar atau profesor;
 7. kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, otonomi
    keilmuan dan otonomi pengelolaan perguruan tinggi;
 8. hak dan kewajiban mahasiswa;
 9. pembiayaan;
10. pengawasan dan akreditasi; dan
11. kerjasama antar perguruan tinggi.

Sebagai suatu sistem tersendiri, meskipun merupakan bagian
dari sistem pendidikan nasional yang cakupannya jauh lebih
luas, pendidikan tinggi di Indonesia harus merupakan sistem
yang dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan-
kebutuhan masyarakat, bangsa dan negara yang senantiasa
mengalami perkembangan,terlebih lagi sebagai perwujudan
pembangunan nasional.

Sistem pendidikan tinggi juga diharapkan merupakan suatu
sistem yang memudahkan seseorang menuntut pendidikan tinggi
sesuai dengan bakat,minat dan tujuannya, meskipun dengan
tetap mempertahankan persyaratan-persyaratan program studi
yang bersangkutan.

Peraturan Pemerintah yang mengatur pendidikan tinggi ini
dimaksudkan untuk menggantikan  Peraturan Pemerintah Nomor
30 Tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi Sebagaimana Telah
Diubah Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 1998.

PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas

Pasal 2
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
   Pendidikan disini adalah   kegiatan dalam upaya menghasilkan
   manusia terdidik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
   tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).
Ayat (3)
   Sebagai kegiatan ilmiah, setiap telaah dilakukan dalam sesuatu
   paradigma tertentu yang berdampak pada penetapan permasalahan
   yang dianggap signifikan serta metodologi yang sesuai yang
   harus digunakan dalam menemukan jawaban dan/atau
   pemecahannya.Penelitiandalam ilmu-ilmu alamiah menggunakan
   kaidah yang berbeda dari penelitian dalam matematika;
   penelitian ilmu sosial yang menggunakan pendekatan
   behavioristik menggunakan pendekatan yang berbeda dari
   penelitian ilmu sosial yang menggunakan pendekatan
   fenomenologik;dan seterusnya.    
Ayat (4)
   Pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan yang
   memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam upaya memberikan
   sumbangan demi kemajuan masyarakat.
   Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pengabdian kepada
   masyarakat sesuai dengan sifat pengetahuan dan tujuan
   pendidikan tinggi yang bersangkutan.

Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas    
Ayat (4)
   Pendidikan dengan cara tatap muka merupakan pendidikan yang
   dilaksanakan dengan mengutamakan komunikasi langsung antara
   dosen dan mahasiswa, termasuk penggunaan berbagai jenis
   metoda belajar mengajar.
   Pendidikan jarak jauh merupakan pendidikan yang dilaksanakan
   dengan mengutamakan penggunaan berbagai sarana komunikasi
   dalam penyampaian bahan pengajaran termasuk penggunaan
   berbagai jeni metoda belajar mengajar.
Ayat (5)
Cukup jelas

Pasal 6

Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
   Yang dimaksud dengan sejumlah bidang pengetahuan khusus
   adalah program-program studi yang dalam pelaksanaan tidak
   harus terkait satu dengan lainnya, sehingga pada satu
   politeknik, misalnya, dimungkinkan penyelenggaraan program
   studi dalam ilmu tehnik dan tata niaga, dua program yang
   berbeda sama sekali.Pengetahuan khusus merupakan sebagian
   dari suatu cabang ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari
   secara khusus namun sebagai satu keseluruhan. Kemampuan
   penguasaan ilmu dan keterampilan dalam bidang khusus ini
   secara nyata diperlukan di masyarakat.Contoh adalah
   pengerjaan logam sebagai bidang pengetahuan dari ilmu
   teknik mesin.
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
   Program pendidikan yang diselenggarak pada institut terkait
   atau sangat dekat berhubungan dengan program-program
   pendidikan yang lain.Oleh sebab itu, program-program
   pendidikan yang diselenggarakan merupakan satu kelompok
   atau adalah sejenis.
Ayat (6)
   Program-program studi yang diselenggarakan pada Universitas
   dapat berupa berbagai cabang ilmu pengetahuan, teknologi
   dan/atau kesenian yang dalam penyelenggaraannya belum tentu
   terkait satu dengan yang
   lain atau erat berhubungan satu dengan yang lain.

Pasal 7
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
   Penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar sejauh
   diperlukan dimungkinkan sampai dengan 100 (seratus) persen.
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
    Sejauh diperlukan dapat diselenggarakan kegiatan semester
    "pendek" diantara 2 (dua) semester "reguler" yang ekivalen
    dengan semester "reguler" sesuai dengan pengertian satuan
    kredit semester (sks).
    Dalam setiap semester "reguler" 1 (satu) sks sama dengan
    beban studi setiap minggu berupa 1 (satu) jam tatap muka,
    1 (satu) jam kegiatan terstruktur, dan 1 (satu) jam
    kegiatan mandiri untuk kurunwaktu 16(enam belas) minggu
    efektif.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 9
Ayat (1)
   Sistem  kredit  semester adalah suatu sistem penyelenggaraan
   pendidikan dimana beban studi mahasiswa, beban kerja tenaga
   pengajar dan beban penyelenggaraan program lembaga pendidikan
   dinyatakan dalam satuan kredit semester.Banyaknya satuan kredit
   semester yang diberikan untuk mata kuliah, atau kegiatan
   proses belajar-mengajar lainnya,adalah besarnya pengakuan
   atas keberhasilan usaha menyelesaikan kegiatan akademik
   yang bersangkutan. Kegiatan akademik meliputi tugas-tugas
   yang dinyatakan dalam program perkuliahan, seminar,praktikum,
   kerja lapangan, penulisan skripsi, tesis dan sebagainya.
   Dalam satu kegiatan akademik diperhitungkan tidak hanya
   kegiatan tatap muka yang terjadwal tetapi juga kegiatan
   yang direncanakan (terstruktur) dan yang dilakukan secara
   mandiri.
   Sistem kredit semester diterapkan agar memungkinkan
   perguruan tinggi melaksanakan penyajian program studi yang
   beraneka ragam dan luwes, serta agar dapat memberi kesempatan
   yang lebih luas kepada mahasiswa
   untuk memilih dan melaksanakan program studi, sesuai dengan
   kemampuan dan kesempatan yang dipunyai.
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 10
Ayat (1)
   Sesuai dengan hakekat dan misinya, pada dasarnya program
   pendidikan formal termasuk pada jenjang pendidikan tinggi,
   seyogyanya memupuk kemampuan dan kemauan peserta didik
   untuk belajar sepanjang hayat,baik dilihat dari sisi
   penerapan keahlian maupun dari segi peran sertanya sebagai
   individu warga masyarakat.
Ayat (2)
   Kuliah merupakan proses belajar mengajar yang dapat meliputi
   komunikasi langsung atau tidak langsung, praktikum,
   penyelenggaraan percobaan(eksperimen), dan pemberian tugas
   akademik lain.
   Seminar merupakan pertemuan ilmiah yang dengan sistematis
   mempelajari pertemuan ilmiah yang dengan sistematis
   mempelajari suatu topik khusus dibawah pimpinan seorang
   yang ahli dan berwenang dalam bidang tersebut.Simposium
   merupakan pertemuan terbuka dengan beberapa pembicara yang
   menyampaikan ceramah pendek mengenai aspek yang berbeda
   tetapi saling berkaitan tentang satu masalah.
   Diskusi panel merupakan forum pertukaran pikiran yang
   dilakukan oleh sekelompok orang di hadapan sekelompok
   hadirin mengenai suatu masalah tertentu yang telah
   dipersiapkan sebelumnya.
   Lokakarya merupakan keterampilan yang bertujuan untuk
   meningkatkan kemampuann dan keterampilan peserta dengan
   menggunakan berbagai jenis metoda pertemuan ilmiah.

Pasal 11
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)    
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup Jelas

Pasal 12
Cukup jelas

Pasal 13
Ayat (1)
   Program studi merupakan pedoman penyelenggaraan pendidikan
   akademik dan/atau profesional yang diselenggarakan atas
   dasar kurikulum yang disusun oleh perguruan tinggi.
Ayat (2)
   Kurikulum yang berlaku secara  nasional adalah rambu-rambu
   untuk menjamin mutu dan kemampuan sesuai dengan program
   studi yang ditempuh.
   Rambu-rambu untuk menjamin mutu dan kemampuan sesuai
   dengan program studi yang ditempuh merupakan patokan
   proporsi terhadap kategori kelompok matakuliah.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 14
Masa studi yang diatur oleh Menteri adalah masa studi untuk
merencanakan kurikulum suatu program studi.  Perguruan
tinggi dapat menentukan masa maksimum yang diperbolehkan
untuk menyelesaikan suatu program studi.  
Bagi peserta didik yang mempunyai kemampuan tinggi dapat
menyelesaikan dalam waktu kurang dari masa studi yang
ditetapkan.

Pasal 15
Ayat (1)
   Selain memperhatikan hasil ujian, penilaian keberhasilan
   belajar mahasiswa dapat juga didasarkan atas penilaian
   pelaksanaan tugas seperti keikutsertaan dalam seminar,
   penulisan makalah, praktikum, pembuatan laporan, pembuatan
   rancangan atau tugas lain serta hasil
   pengamatan.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup Jelas
Ayat (5)
Cukup jelas        

Pasal 16
Ayat (1)
   Ketentuan yang diatur dalam Pasal 16 ayat (1) ini berlaku
   bagi Program Sarjana maupun Program Diploma IV.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 17
Ayat (1)
   Dalam pengertian ilmu pengetahuan, tercakup pula ilmu
   pengetahuan tentang kesenian   dan dalam pengertian
   teknologi mencakup pula teknologi yang diterapkan.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup Jelas
Ayat (5)
Cukup jelas

Pasal 18
Ayat (1)
   Kebebasan mimbar akademik dilaksanakan dalam pertemuan
   ilmiah dalam bentuk seminar, ceramah, simposium, diskusi
   panel, dan ujian dalam rangka pelaksanaan pendidikan
   akademik dan/atau profesional.Kebebasan mimbar akademik
   dapat dilaksanakan di luar perguruan tinggi sepanjang
   tempat tersebut dapat dianggap bagian sementara dari
   perguruan tinggi yang bersangkutan.
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 19
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 21
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 23
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 24
Cukup jelas

Pasal 25
Ayat (1)
   Gelar Doktor Kehormatan atau yang disebut dalam bahasa
   asingnya Doktor Honoris Causa dapat diberikan kepada
   seseorang baik Warga Negara Indonesia ataupun Warga Negara
   Asing yang berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan,
   teknologi, kemasyarakatan dan kemanusiaan.

Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 26
Cukup jelas

Pasal 27
Tidak semua unsur penunjang sebagaimana dimaksud dalam huruf
g harus ada, tergantung kepada keperluan atau kebutuhan
perguruan tinggi yang bersangkutan.

Pasal 28
Ayat (1)
   Dalam upaya membantu memecahkan permasalahan perguruan
   tinggi, Dewan Penyantun diharapkan berperan aktif baik
   sendiri maupun dengan menggerakkan atau mengerahkan
   sumber daya masyarakat.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 29
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
   Pada dasarnya Pembantu Rektor/Pembantu Ketua/Pembantu
   Direktur berjumlah 3 (tiga) orang sesuai dengan bidang
   kegiatan Akademik, Administrasi Umum, dan Kemahasiswaan.
   Perguruan tinggi dapat mengangkat Pembantu Rektor/Pembantu
   Ketua/Pembantu Direktur yang jumlahnya sesuai dengan
   kebutuhan atas persetujuan senat perguruan tinggi.

Pasal 30
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf  a
  Cukup jelas
Huruf  b
   Kebijaksanaan penilaian prestasi akademik dan
   kecakapan serta kepribadian anggota sivitas
   akademika mencakup pula kriteria akademik untuk
   menetapkan kelulusan dari suatu program studi dan
   pemutusan studi.
Huruf  c
  Cukup jelas
Huruf  d
  Cukup jelas
Huruf  e
  Cukup jelas
Huruf  f
  Cukup jelas
Huruf  g
  Cukup jelas
Huruf  h
  Cukup jelas
Huruf  i
  Cukup jelas
Ayat (3)
   Masing-masing perguruan tinggi menetapkan cara pemilihan
   wakil dosen serta dimungkinkan menambah anggota senat dari
   unsur-unsur lain.
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
   Dalam hal tidak ada kesepakatan dalam rapat senat perguruan
   tinggi, pimpinan perguruan tinggi menyampaikan permasalahan
   yang bersangkutan kepada Menteri untuk memperoleh keputusan.
Ayat (7)
Cukup jelas

Pasal 31
Ayat (1)
   Pada Fakultas yang menyelenggarakan program pendidikan
   dalam bidang ilmu tertentu dapat dibentuk bagian sebagai
   unsur pelaksana akademik yang berfungsi dan memiliki
   struktur seperti jurusan.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
   Pengelolaan laboratorium/studio dapat menjadi tanggungjawab jurusan,
   fakultas, atau perguruan tinggi.

Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 33
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 34
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 35
Cukup jelas

Pasal  36
Pada dasarnya Pembantu Rektor berjumlah 3 (tiga) orang sesuai
dengan bidangnya yaitu bidang Akademik, bidang Administrasi
Umum,dan bidang Kemahasiswaan. Namun demikian, sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan dari Universitas/Institut yang
bersangkutan dapat diangkat Pembantu Rektor kurang atau lebih
dari 3 (tiga) orang.
Dalam hal jumlah Pembantu Rektor kurang atau melebihi 3 (tiga)
orang,fungsi bidang Akademik, Administrasi Umum, dan
Kemahasiswaan tetap harus ada dan dilaksanakan atas persetujuan
senat Universitas/Institut yang bersangkutan.
Pengertian di atas berlaku pula untuk:
a. Jumlah Pembantu Ketua Sekolah Tinggi sebagaimana dimaksud
   dalam Pasal 60;
b. Jumlah Pembantu Direktur Politeknik sebagaimana dimaksud
   dalam Pasal 75 ; dan
c. Jumlah Pembantu Direktur Akademi sebagaimana dimaksud dalam
   Pasal 88.

Pasal 37
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 38
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
   Pembinaan mahasiswa yang dimaksud pada ayat ini antara lain
   meliputi upaya peningkatan kepemimpinan, penalaran, minat,
   dan kegemaran mahasiswa.Kesejahteraan mahasiswa yang
   dimaksud pada ayat ini
   antara lain meliputi asrama, koperasi mahasisw kredit
   mahasiswa pada Bank, pelayanan kesehatan, pelayanan minat
   dan bakat mahasiswa dalam bidang kesenian dan olahraga.

Pasal 39
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas

Pasal 40
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 41
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
    
Pasal 42
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 43
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 44
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas

Pasal  45
Cukup jelas

Pasal 46
Ayat (1)
   Pada dasarnya Pembantu Dekan berjumlah 3 (tiga) orang
   sesuai dengan bidang kegiatan Akademik, Administrasi Umum
   dan Kemahasiswaan.  
   Perguruan tinggi dapat mengangkat Pembantu Dekan yang
   jumlahnya sesuai dengan kebutuhan perguruan tinggi.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
    
Pasal 47
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
    
Pasal 48
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 49
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 50
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Ayat (8)
Cukup jelas

Pasal 51    
Cukup jelas

Pasal 52
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
        
Pasal 53
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 54
Ayat (1)
   Dalam hal tidak adanya Direktur Program Pasca Sarjana,
   tugas dan fungsi sebagaimana disebut pada ayat (5) dan
   (6) dilaksanakan oleh Pembantu Rektor yang membidangi
   kegiatan bidang akademik.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Lintas jurusan berarti bukan merupakan kelanjutan dari program
sarjana dalam jurusan tertentu dan/atau menggunakan sumber
daya dari beberapa jurusan.

Pasal 55
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
   Organisasi biro pada universitas/institut dapat disesuaikan
   dengan keperluan dan kemampuan universitas/institut yang
   bersangkutan.

Pasal 56
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 57
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 58
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 59
Organisasi sekolah tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat
dapat disesuaikan dengan keperluan dan kemampuan sekolah
tinggi yang bersangkutan.

Pasal 60
Lihat  Penjelasan Pasal 36


Pasal 61
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas  
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 62
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 63
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
    
Pasal 64
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 65
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
    
Pasal 66
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Ayat (8)
Cukup jelas

Pasal 67
Cukup jelas

Pasal 68
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 69
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 70
Ayat (1)
   Dalam hal tidak diangkat seorang Direktur Program Pasca
   Sarjana,tugas dan fungsi sebagaimana disebut pada ayat (5)
   dan ayat (6) dilaksanakan oleh Pembantu Ketua yang
   membidangi kegiatan bidang akademik.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas

Pasal  71
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 72
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 73
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 74
Organisasi politeknik yang diselenggarakan oleh masyarakat
dapat disesuaikan berdasarkan keperluan dan kemampuan
politeknik yang bersangkutan.

Pasal 75
Lihat Penjelasan Pasal 36    

Pasal 76
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 77
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 78
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas

Pasal 79
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal  80
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
   Seorang dosen yang memangku jabatan guru besar yang diminta
   mengajar politeknik juga menjadi anggota senat politeknik
   tersebut.
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas

Pasal 81
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Ayat (8)
Cukup jelas

Pasal 82
Cukup jelas

Pasal 83
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 84
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 85
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 86
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 87
Organisasi akademi yang diselenggarakan oleh masyarakat dapat
disesuaikan berdasarkan keperluan dan kemampuan  akademi yang
bersangkutan.

Pasal 88
Lihat penjelasan Pasal 36

Pasal 89
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 90
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 91
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas

Pasal 92
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 93
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas

Pasal 94
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Ayat (8)
Cukup jelas

Pasal 95
Cukup jelas

Pasal 96
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
   Yang dimaksud dengan satuan pendidikan yang membawahinya
   adalah untuk:
   a) universitas/institut adalah Fakultas
   b) Sekolah tinggi/Politeknik/Akademik adalah lembaga
      pendidikan itu sendiri.
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 97
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 98
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 99
Cukup jelas

Pasal  100
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 101
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
   Pemerintah dapat memberi bantuan kepada perguruan tinggi
   yang diselenggarakan oleh masyarakat dalam bentuk dosen
   tetap yang dikerjakan pada perguruan tinggi yang
   bersangkutan.
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
   Dosen tamu dapat berasal dari dalam negeri atau dari luar
   negeri.

Pasal 102
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
   Pengangkatan pada jabatan akademik diatur dengan sistem
   kredit yang dikumpulkan atas kegiatan yang telah dilakukan
   oleh dosen dalam menjalankan tugasnya.Besarnya angka kredit
   yang diberikan atas suatu jenis kegiatan serta jumlah
   minimal angka kredit bagi suatu jabatan akademik ditentukan
   oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan
   aparatur negara. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
   menetapkan tata cara penilaian angka kreditabatan akademik
   dosen.

Pasal 103
Cukup jelas

Pasal 104
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
   Perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Departemen lain
   atau lembaga Pemerintah lain mengusulkan pengangkatan guru
   besar melalui Menteri lain atau Pimpinan Lembaga Pemerintah
   lain yang bersangkutan kepada Menteri.
Ayat (5)
Cukup jelas

Pasal 105        
Cukup jelas

Pasal 106
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 107
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 108
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 109
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 110
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 111
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 112
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 113
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 114
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
   Pemerintah yang dimaksud dalam ayat ini adalah baik
   Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.
Ayat (3)
Huruf a
  Cukup jelas
Huruf b
  Cukup jelas
Huruf c
     Kontrak kerja yang dimaksud meliputi kegiatan
     penelitian, konsultasi, pelatihan, dan lain-lain
     kegiatan yang berhubungan dengan peran dan fungsi
     perguruan tinggi.
Huruf d
     Yang dimaksud dengan produk adalah barang dan/atau
     jasa sebagai hasil kegiatan yang berhubungan dengan
     peran fungsi perguruan tinggi.    
Huruf e
  Cukup jelas
Huruf f
  Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
   Yang dimaksud dengan tidak mencari keuntungan adalah usaha
   yang semata-mata diselenggarakan untuk kelancaran
   pelaksanaan dan
   pengembangan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan peran
   dan fungsi perguruan tinggi.

Pasal 115
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
    
Pasal 116
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 117
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 118
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 119
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 120
Cukup jelas

Pasal 121
Cukup jelas

Pasal 122
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 123
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 124
Cukup jelas

Pasal 125
Cukup jelas

Pasal 126
Cukup jelas

Pasal 127
Cukup jelas
    
Pasal 128
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
    Mutu terdiri dari efektifitas, efisiensi, produktifitas,
    akuntabilitas, suasana akademik, dan ketahanan sistem.
Ayat (3)
    Kemandirian Badan Akreditasi menjadi dasar dalam
    pelaksanaan tugasnya walaupun memperoleh dukungan sumber
    daya dari pihak lain termasuk Pemerintah.
Ayat (4)
   Langkah pembinaan terhadap perguruan tinggi dapat
   berbentuk :
   a. Peningkatan bantuan penyediaan sumber daya;
   b. Pengurangan atau penghentian bantuan penyediaan sumber
      daya bagi program-program tertentu;
   c. Penghentian pelaksanaan program-program tertentu;
   d. Penangguhan untuk sementara otonomi pengelolaan
      perguruan tinggi yang bersangkutan;
   e. Langkah pembinaan lainnya yang dipandang perlu.
Ayat (5)
Cukup jelas

Pasal 129
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 130
Cukup jelas

Pasal 131
Cukup jelas

Pasal 132
Cukup jelas
Pasal 133
Cukup jelas


TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3859
 
< Prev   Next >